Rabu, 27 September 2017

Taksonomi Bloom Revisi Anderson (termuat dalam Permendiknas No 104 Tahun 2014)

Manusia mempelajari tentang segala sesuatu tentang isi/konten pengetahuan (apanya) sedangkan ada berbagai cara-cara untuk mempelajari konten tersebut (bagaimana). Isi/konten pengetahuan berasal dari segala fenomena seantero alam semesta diterima melalui panca indra dan masuk dalam diri manusia.
Bloom menyebut taksonomi untuk pengklasifikasian belajar dengan alasan bahwa belajar memiliki  tingkatan dan sub-sub tingkatan. Taksonomi Bloom dibedakan menjadi 3 kelompok besar (domain/ranah) yakni: Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Umumnya taksonomi Bloom disebut Tujuan Pendidikan (Education Goal) atau tujuan-tujuan pengajaran (teaching outcomes) ataupun tujuan-tujuan pembelajaran (instructional objectives) kemudian setelah seseorang belajar disebut pula tujuan-tujuan belajar (learning objectives) atau hasil belajar (learning outcomes). Selama proses pembelajaran berlangsung untuk menjadi hasil belajar disebut tugas-tugas belajar (learning tasks). Rancangan pembelajarannya (instructional design), sangat diperlukan bagian analisis materi pelajaran (learning tasks analysis).
Tujuan-Tujuan Pendidikan/Belajar/Pembelajaran
Taksonomi Pendidikan dicipta oleh Benyamin Bloom yang terdiri dari 3 klasifikasi besar (domain/ranah) yakni: Cognitive (Kognitif/Berpikir), Affective (Sikap/Emosi), dan Psychomotor (Psikomotor/Gerak motorik). Taksonomi pendidikan juga disebut taksonomi belajar merupakan tujuan-tujuan belajar "sesuatu". Klasifikasi tujuan belajar bukan hanya Bloom tetapi ada juga derivasinya seperti Kapabilitas Belajar dari Gagne. Hilda Taba juga membuat klasifikasi dan ada beberapa klasifikasi lainnya.
Klasifikasi tujuan belajar sebagai cara untuk mengetahui tujuan pendidikan yang sangat penting diketahui supaya dapatlah kita menentukan sampai sejauh mana kemajuan pendidikan seorang siswa, sekolah, dan suatu negara.
Taksonomi Bloom Kognitif, Afektif, dan Psikomotor memiliki sub-klasifikasi yang bersusun dari yang paling rendah sampai dengan tinggi atau kompleks.
Domain Kognitif (Cognitive) yang terdiri dari: 1) Pengetahuan (Knowledge)/C1, 2) Pemahaman (Comprehension)/C2, 3) Aplikasi (Application)/C3,  4) Analisis (Analysis)/C4, 5) Sintesis (Synthesis)/C5, dan 6) Evaluasi (Evaluation)/C6. -- Bloom, B. S. ed. et al. (1956). Taxonomy of Educational Objectives: Handbook 1, Cognitive Domain. New York: David McKay.
Domain Afektif (Affective) terdiri dari: 1) Penerimaan (Receiving/Attending), 2) Tanggapan (Responding), 3) Penghargaan (Valuing), 4) Pengorganisasian (Organization), dan 5) Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex) -- Krathwohl, D. R. ed. et al. (1964), Taxonomy of Educational Objectives: Handbook II, Affective Domain. New York: David McKay.
Domain Psikomotor (Psychomotor) terdiri dari: 1) Persepsi (Perception), 2) Kesiapan (Set), 3) Respon Terpimpin (Guided Response),  4) Mekanisme (Mechanism), 5) Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response), 6) Penyesuaian (Adaptation), dan 7) Keaslian (Origination) -- Simpson, J. S. (1966). The classification of educational objectives, psychomotor domain. Office of Education Project No. 5-85-104. Urbana, IL: University of Illinois.
Sekarang ini, sekolah menggunakan Kurikulum 2013, Kur 2013 revisi 2016, dan Kur revisi 2017 tidak meninggalkan Taksonomi Bloom tetapi menggunakan yang direvisi oleh Anderson yang tercantum dalam permendiknas no 104 tahun 2014.

Taksonomi Bloom Revisi Anderson

(termuat dalam Permendiknas No 104 Tahun 2014)


Kompetensi Pengetahuan (Domain Kognitif)

Susunan klasifikasi ini dari Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Anderson untuk Domain Kognitif/Kognisi memiliki 2 dimensi yakni: 1) Dimensi Kemampuan Proses Berpikir dan 2) Dimensi Pengetahuan.
Perbedaan dari sebelum dan sesudah revisi adalah Tingkatan Evaluasi berubah tempat menjadi lebih rendah daripada Tingkatan Sintesis yang diganti dengan istilah Mencipta sedangkan  C1 yang disebut Pengetahuan (Knowledge) telah berubah menjadi dimensi kedua. Kemampuan Berpikir dibuat struktur tersendiri dengan demikian istilah C1 sampai C6 tidak berlaku lagi untuk Domain Kognitif.

Dimensi pertama yakni Struktur Proses Belajar

Struktur Proses Belajar yakni: 1) Kemampuan Mengingat, 2) Kemampuan Memahami, 3) Kemampuan Menerapkan, 4) Kemampuan Menganalisis, 5) Kemampuan Mengevaluasi, dan 6) Kemampuan Mencipta.
Kemampuan Mengingat: mengemukakan kembali apa yang sudah dipelajari dari guru, buku, sumber lainnya sebagaimana aslinya, tanpa melakukan perubahan.  Pengetahuan hafalan: ketepatan, kecepatan, kebenaran pengetahuan yang diingat dan digunakan ketika menjawab pertanyaan tentang fakta, definisi konsep, prosedur, hukum, teori dari apa yang sudah dipelajari di kelas tanpa diubah/berubah.
Kemampuan Memahami: Sudah ada proses pengolahan dari bentuk aslinya tetapi arti dari kata, istilah, tulisan, grafik, tabel, gambar, foto tidak berubah.  Kemampuan mengolah pengetahuan yang dipelajari menjadi sesuatu yang baru seperti  menggantikan suatu kata/istilah dengan kata/istilah lain yang sama maknanya; menulis kembali suatu kalimat/paragraf/tulisan dengan kalimat/paragraf/tulisan sendiri dengan tanpa mengubah artinya informasi aslinya; mengubah bentuk komunikasi dari bentuk kalimat ke bentuk grafik/tabel/visual atau  sebaliknya; memberi tafsir suatu kalimat/paragraf/tulisan/data sesuai dengan kemampuan peserta didik; memperkirakan kemungkinan yang terjadi dari suatu informasi yang terkandung dalam suatu kalimat/paragraf/tulisan/data.
Kemampuan Menerapkan: Menggunakan informasi, konsep, prosedur, prinsip, hukum, teori yang sudah dipelajari untuk sesuatu yang baru/belum dipelajari.  Kemampuan menggunakan pengetahuan seperti konsep massa, cahaya, suara, listrik, hukum penawaran dan permintaan, hukum Boyle, hukum  Archimedes, membagi/ mengali/menambah/mengurangi/menjumlah, menghitung modal dan harga, hukum persamaan kuadrat, menentukan arah kiblat, menggunakan jangka, menghitung jarak tempat di peta, menerapkan prinsip kronologi dalam menentukan waktu suatu benda/peristiwa,  dan sebagainya dalam mempelajari sesuatu yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
Kemampuan Menganalisis: Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/ informasi dengan kelompok/ informasi lainnya, antara fakta dengan kesimpulan, benang merah pemikiran  antara satu karya dengan karya lainnya dengan konsep, antara argumentasi. Kemampuan mengelompokkan benda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri- cirinya, memberi nama bagi kelompok tersebut, menentukan apakah satu kelompok sejajar/lebih tinggi/lebih luas dari yang lain, menentukan mana yang lebihdulu dan mana yang belakangan muncul,menentukan mana yang memberikan pengaruh dan mana yang menerima pengaruh, menemukan keterkaitan antara fakta dengan kesimpulan, menentukan konsistensi antara apa yang dikemukakan di bagian awal dengan bagian berikutnya, menemukan pikiran pokok penulis/pembicara/nara sumber, menemukan kesamaan dalam alur berpikir antara satu karya dengan karya lainnya, dan sebagainya.
Kemampuan Mengevaluasi: Menentukan nilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria. Kemampuan menilai apakah informasi yang diberikan berguna, apakah suatu informasi/benda menarik/menyenangkan bagi dirinya, adakah penyimpangan dari kriteria suatu pekerjaan/keputusan/ peraturan, memberikan pertimbangan alternatif mana yang harus dipilih berdasarkan kriteria, menilai benar/salah/bagus/jelek dan sebagainya suatu hasil kerja berdasarkan kriteria.
Kemampuan Mencipta: Membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya. Kemampuan membuat suatu cerita/tulisan dari berbagai sumber yang dibacanya, membuat suatu benda dari bahan yang tersedia, mengembangkan fungsi baru dari suatu benda, mengembangkan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Dimensi Kedua (Struktur Pengetahuan)

Faktual: Pengetahuan  tentang  istilah,  nama  orang, nama  benda,  angka,  tahun,  dan  hal-hal yang terkait secara khusus dengan suatu mata pelajaran.
Konseptual: Pengetahuan tentang kategori, klasifikasi, keterkaitan antara satu kategori dengan lainnya, hukum kausalita, definisi, teori.
Prosedural: Pengetahuan tentang prosedur dan proses khusus dari suatu mata pelajaran seperti algoritma, teknik, metoda, dan kriteria untuk menentukan ketepatan penggunaan suatu prosedur.
Metakognitif: Pengetahuan tentang cara mempelajari pengetahuan, menentukan pengetahuan yang penting dan tidak penting (strategic knowledge), pengetahuan yang sesuai dengan konteks tertentu, dan pengetahuan diri (self-knowledge).

Perpaduan antara Dimensi Kesatu dengan Dimensi Kedua

Apabila dibuat Matriks antara 6 sub-struktur proses belajar dengan 4 sub-struktur pengetahuan maka akan diperoleh 24 kombinasi dan dapat membentun TABEL SPESIFIKASI TUJUAN PEMBELAJARAN sebagai contoh 17 tujuan-tujuan pembelajaran misalnya:
  1. Kemampuan mengingat pengetahuan faktual
  2. Kemampuan memahami pengetahuan faktual
  3. Kemampuan memahami pengetahuan konseptual
  4. Kemampuan memahami pengetahuan prosedural
  5. Kemampuan menerapkan pengetahuan faktual
  6. Kemampuan menerapkan pengetahuan konseptual
  7. Kemampuan menerapkan pengetahuan prosedural
  8. Kemampuan menganalisis pengetahuan faktual
  9. Kemampuan menganalisis pengetahuan konseptual
  10. Kemampuan menganalisis pengetahuan prosedural
  11. Kemampuan mengevaluasi pengetahuan faktual
  12. Kemampuan mengevaluasi pengetahuan konseptual
  13. Kemampuan mengevaluasi pengetahuan prosedural
  14. Kemampuan mencipta pengetahuan faktual
  15. Kemampuan mencipta pengetahuan konseptual
  16. Kemampuan mencipta pengetahuan prosedural
  17. Kemampuan metakognisi antara lain trik penguasaan konsep, rumus dan penyelesaian soal-soal kimia.
 

Kompetensi Keterampilan

Permendiknas No 104 Tahun 2014 memisahkan keterampilan dari pengetahuan yang disebut keterampilan abstrak dan menyebut domain psikomotor sebagai keterampilan kongkrit.

Keterampilan Abstrak

Keterampilan Abstrak terdiri dari: 1) Mengamati, 2) Menanya, 3) Mengumpulkan informasi/mencoba, 4) Menalar/mengasosiasi, 5) Mengomunikasikan.
Mengamati: Perhatian pada waktu mengamati suatu objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati.
Menanya: Jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik) validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
Mengumpulkan informasi/mencoba: Jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi.
Menalar/mengasosiasi: Menalar/mengasosiasi. Mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi   dari  dua fakta/konsep, interpretasi  argumentasi   dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih   dari dua fakta/konsep/teori,  mensintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antarberbagai jenis  fakta/konsep/teori/ pendapat;  mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan  hubungan fakta/ konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber.
Mengomunikasikan: Menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain.

Keterampilan Kongkrit (Domain Psikomotor)

Keterampilan Konkrit terdiri dari: 1) Persepsi (perception), 2) Kesiapan (set), 3) Meniru (guided response), 4) Membiasakan gerakan  (mechanism), 5) Mahir (complex or overt response), 6) Menjadi gerakan alami (adaptation), dan 7) Menjadi tindakan orisinal  (origination).
Persepsi (perception): Menunjukan perhatian untuk melakukan suatu gerakan.
Kesiapan (set): Menunjukan kesiapan mental dan fisik untuk melakukan suatu gerakan.
Meniru (guided response): Meniru gerakan secara terbimbing.
Membiasakan gerakan (mechanism): Melakukan gerakan mekanistik.
Mahir (complex or overt response): Melakukan gerakan kompleks dan termodifikasi.
Menjadi gerakan alami (adaptation): Menjadi gerakan alami yang diciptakan sendiri atas dasar gerakan yang sudah dikuasai sebelumnya.
Menjadi tindakan orisinal (origination): Menjadi gerakan baru yang orisinal dan sukar ditiru oleh orang lain dan menjadi ciri khasnya.

Kompetensi Sikap (Domain Afektif)

Sikap terdiri dari: 1) Menerima nilai, 2) Menanggapi nilai, 3) Menghargai nilai, 4) Menghayati nilai, dan 5) Mengamalkan nilai.
Menerima nilai: Kesediaan menerima suatu nilai dan memberikan perhatian terhadap nilai tersebut.
Menanggapi nilai: Kesediaan menjawab suatu nilai dan ada rasa puas dalam membicarakan nilai tersebut.
Menghargai nilai: Menganggap nilai tersebut baik; menyukai nilai tersebut; dan komitmen terhadap nilai tersebut.
Menghayati nilai: Memasukkan nilai tersebut sebagai bagian dari sistem nilai dirinya.
Mengamalkan nilai: Mengembangkan nilai tersebut sebagai ciri dirinya dalam berpikir, berkata, berkomunikasi, dan bertindak (karakter). 

Kamis, 27 Februari 2014

Interaksi Belajar dan Mengajar

      Interaksi belajar dan mengajar terjadi apabila ada yang mengajar (guru) dan ada yang belajar (siswa). Situasi ini terjadi di dalam kelas, di ruang laboratorium, dan di luar kelas lainnya. Tugas guru selalu mengatur supaya proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan menyenangkan seiring waktu berlalu. Saat hendak mendiskripsikan belajar perlu juga diikutkan penjelasan tentang mengajar. Apakah belajar sama persis dengan mengajar? Jawabannya tidak. Belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri siswa sedangkan mengajar adalah proses yang terjadi di luar diri siswa tetapi mempengaruhi siswa. Belajar dapat dipisahkan dengan mengajar kalau hal itu terjadi tanpa ada guru.

Senin, 24 Februari 2014

pengertian strategi

     Dibidang militer, bisnis, dan olahraga sangat terasa makna strategi dalam segala kalimatnya. Untuk pendidikan belum ada kata sepakat mengenai makna kata strategi.  Setiap buku pendidikan dan pembelajaran dapat ditemukan bahwa makna kata strategi dengan pendekatan, metode, teknik maupun taktik digunakan secara bersama-sama seakan-akan memiliki arti yang sama.

Sabtu, 16 Februari 2013

pengertian belajar

     Belajar walaupun terjadi secara bersama-sama dengan siswa lain secara berkelompok di kelas, di ruang laboratorium, atau di kebun sekolah tetap saja merupakan hak secara individual bagi setiap siswa. Boleh jadi mereka belajar secara kelompok kecil dan berdiskusi atau mendengar penjelasan dari guru atau mengamati sesuatu secara langsung maupun visualisasi dari media belajar tetapi yang menentukan terjadi belajar adalah si yang bersangkutan. Apa itu belajar? Belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri seorang manusia akibat tindakan yang bersangkutan lakukan untuk menguasai sesuatu hal. Misalnya tindakan latihan soal berulang-ulang sampai menguasai seluk beluk dari jenis soal tersebut sehingga saat menyelesaikan ujian si siswa dapat menyelesaikan soal secara gampang dan cepat. Hal ini adalah belajar yang menghasilkan aspek kognisi semata. Latihan soal berulang dapat dilakukan di atas kertas dengan mencoret yang salah dan menggatikan yang benar dapat terjadi karena motivasi yang kuat, tertantang sekaligus tidak bosan.
    Belajar dapat pula menghasilkan aspek sikap.Sikap merupakan kecenderungan bertindak. Siswa mengendalikan seluruh persaannya sesuai dengan kondisi saat itu. Latihan menerima pendapat orang lain walaupun tidak sama dengan pemahamannya merupakan hal dari hasil belajar aspek sikap.
    Bagaimana dengan aspek psikomotorik yang merupakan keterampilan gerak motorik? Cara belajar juga dapat sama dengan aspek kognitif dan aspek sikap. Latihan berulang-ulang suatu gerakan tertentu akan menghasilkan otomatisasi apabila tingkat kognitif dan sikap sudah dikuasai lebih dahulu. Dalam permainan sepakbola, seorang atlet tidak dapat meliuk-liuk diantara lawannya kalau tidak memiliki tingkat kognisi dan sikap yang tinggi.